Unusia Berkontribusi dalam Forum Cendekiawan Malindo Madani di Kuala Lumpur
Humas Unusia
Content Writer
Dua akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Fariz Alnizar dan Ahmad Suaedy menjadi delegasi penting dalam forum Majlis Cendekiawan Malaysia–Indonesia (Malindo Madani)yang digelar sebagai wadah mempererat jaringan intelektual Islam antara dua bangsa serumpun di Kuala Lumpur, 21-24 Agustus 2025.
Fariz Alnizar, yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Hubungan Masyarakat, bersama Ahmad Suaedy, Dekan Fakultas Islam Nusantara, tampil mewakili Unusia dalam forum bergengsi tersebut. Kehadiran keduanya mencerminkan komitmen institusi untuk aktif berperan dalam membangun diplomasi intelektual lintas negara, khususnya dalam kerangka penguatan peradaban Islam Nusantara.
“Forum ini bukan hanya pertemuan seremonial, tapi ruang strategis untuk mengarusutamakan nilai-nilai Islam Nusantara ke dalam wacana keislaman Asia Tenggara yang inklusif, progresif, dan berbasis pada kearifan lokal,” ungkap Fariz Alnizar di sela kegiatan.
Sementara itu, Ahmad Saudey menekankan pentingnya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan di tengah arus globalisasi yang kian cepat.
“Islam di Nusantara memiliki sejarah panjang dalam membangun peradaban yang harmonis. Melalui Malindo Madani, kita ingin mendorong kolaborasi yang konkret antara institusi pendidikan tinggi Malaysia dan Indonesia,” jelasnya.
Acara Malindo Madani dihadiri oleh tokoh-tokoh cendekiawan dari kedua negara dan menjadi bagian dari penguatan konsep Malaysia MADANI, yang diusung oleh Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim. Dalam sambutannya, Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Hal Ehwal Agama), Dato’ Setia Dr. Hj. Mohd Na’im Mokhtar, menegaskan pentingnya forum ini sebagai “jambatan emas” (jembatan emas) yang menghubungkan aspirasi dan pemikiran lintas negara demi membangun peradaban Islam yang rahmatan lil alamin.
Kehadiran perwakilan Unusia juga merupakan implementasi kerjasama antara Unusia dengan Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) di dalam bidang riset, pertukaran akademik, dan pengembangan kurikulum berbasis nilai-nilai keislaman lokal yang inklusif. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat jaringan akademik yang mampu menciptakan solusi kontekstual atas tantangan umat dan bangsa di era modern.
Penulis: Anwariah Salsabila