Unusia Gelar Tanya Marlo, Angkat Isu HIV, Seksualitas dan Kesehatan Mental Mahasiswa

Unusia Gelar Tanya Marlo, Angkat Isu HIV, Seksualitas dan Kesehatan Mental Mahasiswa

News 5 min read

Unusia Gelar Tanya Marlo, Angkat Isu HIV, Seksualitas dan Kesehatan Mental Mahasiswa

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Unusia Gelar Tanya Marlo, Angkat Isu HIV, Seksualitas dan Kesehatan Mental Mahasiswa

Jakarta – Fakultas Ilmu Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) melalui Program Studi Psikologi menggelar kegiatan Tanya Marlo Goes To Campus Part 2 yang mengangkat tema “Sehat Tanpa Tabu: HIV, Seksualitas, dan Mental Health untuk Mahasiswa”, Jumat (24/4) di Aula Lantai 4 Unusia.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Devie Yundianto, M.Psi, dr. Teza Farida, M.K.M, serta konselor Andri F. Bobby, dengan tujuan membuka ruang diskusi yang lebih terbuka terkait isu-isu yang selama ini kerap dianggap sensitif, namun penting untuk dipahami oleh mahasiswa.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial Unusia, Naeni Amanullah, dalam sambutannya menegaskan bahwa seksualitas sering kali dipandang sebagai hal tabu di masyarakat. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari pembahasan dan pencarian pengetahuan.

“Seksualitas itu tabu, tapi jangan sampai kita tidak mau membicarakannya dan tidak mencari pengetahuannya,” ujarnya.

Dalam sesi pemaparan, Devie Yundianto menyoroti keterkaitan antara kesehatan mental dengan perilaku berisiko terhadap penularan HIV. Ia menjelaskan bahwa faktor psikologis seperti impulsivitas, rendahnya kontrol diri, serta kecenderungan narsistik dapat mendorong individu mengambil keputusan yang berisiko, termasuk dalam praktik hubungan seksual yang tidak aman.

Menurutnya, kesehatan mental menjadi aspek penting yang kerap luput dalam upaya pencegahan HIV. Gangguan seperti depresi dan kecemasan dapat memengaruhi kemampuan individu dalam mengambil keputusan secara rasional, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap risiko.

Sebagai upaya solusi, ia menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi antara kesehatan mental dan pencegahan HIV, melalui pemberdayaan individu, terapi kognitif-perilaku (CBT), pelatihan komunikasi asertif, serta penguatan resiliensi. “Penanganan HIV tidak hanya soal virus, tetapi juga tentang memahami manusia secara utuh,” jelasnya.

Sementara itu, dr. Teza Farida memberikan pemahaman dasar mengenai HIV, AIDS, dan sifilis sebagai bagian dari edukasi kesehatan reproduksi. Ia menjelaskan bahwa HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala yang muncul akibat menurunnya sistem imun.

Ia menjelaskan bahwa HIV menyerang sel darah putih yang berperan penting dalam melawan infeksi. Ketika sel tersebut rusak, tubuh menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Selain itu, dr. Teza juga memaparkan tentang sifilis sebagai infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini bersifat kronis dan dapat menyerang berbagai organ tubuh, bahkan berisiko ditularkan dari ibu ke janin.

Ia turut menguraikan gejala serta faktor risiko penularan, seperti hubungan seksual tanpa pengaman, sering berganti pasangan, serta kontak langsung dengan individu yang terinfeksi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya deteksi dini, peningkatan kesadaran, serta penerapan perilaku hidup sehat sebagai langkah pencegahan utama.

Melalui kegiatan ini, Unusia berupaya menghadirkan ruang edukasi yang inklusif dan informatif bagi mahasiswa, sekaligus mendorong terbentuknya lingkungan kampus yang lebih terbuka, peduli, dan bebas stigma terhadap isu kesehatan mental dan kesehatan reproduksi.