Menelusuri Jejak Islam Maritim: Dekan Unusia Perkuat Kerja Sama dengan Museum Ceng-Ho
Humas Unusia
Content Writer
Dr. Ahmad Suady, MA. Hum, Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia, melakukan kunjungan resmi ke Museum Ceng Ho di Melaka, Malaysia. Kunjungan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Nota Kesepahaman (MoU) antara Unusia dan Museum Ceng Ho, sekaligus sebagai bagian dari konsultasi disertasi dengan Wakil Direktur Museum Ceng Ho yang merupakan mahasiswa S3 by research di Unusia. Kunjungan ini juga bertujuan mematangkan proposal disertasi serta merumuskan kerja sama terkait promosi warisan budaya Cheng Ho dan Islam Maritim di Asia Tenggara.
Menurut Dr. Ahmad Suady, Museum Ceng Ho memiliki visi untuk mengusulkan perjalanan maritim Cheng Ho dan jejak Islam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, sebagai warisan budaya UNESCO. Untuk tahap pertama, fokus utama diarahkan pada kawasan Cirebon. Selain itu, terdapat rencana promosi warisan budaya Cheng Ho yang juga melibatkan Wali Songo dan Gus Dur, yang secara eksplisit terhubung dalam peta warisan budaya Cheng Ho.
Dr. Ahmad Suady menjelaskan bahwa Laksamana Cheng Ho sebenarnya memiliki garis keturunan Arab yang berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW. Karena kebijakan di Tiongkok melarang penggunaan nama Arab, maka nama Cheng Ho menggunakan nama Tionghoa. Hal ini menunjukkan adanya campuran darah Arab dan Tionghoa dalam silsilah Cheng Ho.
Selain Museum Ceng Ho, Dr. Ahmad Suady juga mengunjungi beberapa masjid tua di Melaka, termasuk Masjid Cheng Ho dan Masjid Jawa, yang merupakan peninggalan sejarah pada masa perang dengan Portugis ketika Sultan Demak, Pati Unus, turut membantu Melaka. Masjid-masjid tua tersebut mencerminkan arsitektur Jawa yang unik dan sarat nilai sejarah.
Dr. Ahmad Suady juga mengunjungi pameran 'Samudera Berbicara' di Museum Islam Malaysia terbesar di Kuala Lumpur. Pameran ini mengusung tema 'Islam Maritim' dan menampilkan koleksi berupa perahu, kapal, tulisan Arab, Al-Qur'an, keramik Tiongkok dari masa sebelum dan selama Cheng Ho, serta berbagai benda sejarah lainnya. Pameran ini menggambarkan bagaimana pulau-pulau di Asia Tenggara terhubung melalui jalur maritim Islam.
Dalam wawancaranya, Dr. Ahmad Suady menyampaikan bahwa Cheng Ho tidak hanya memiliki misi diplomatik tetapi juga misi penyebaran Islam. Pada masa Dinasti Ming, kebijakan lebih terbuka terhadap Islam dan diplomasi dilakukan dengan berbagai negara, termasuk Asia Tenggara dan Afrika. Hal ini menjadikan Laksamana Cheng Ho sebagai figur penting dalam penyebaran Islam Maritim di kawasan tersebut.
Sebagai pesan kepada para mahasiswa dan dosen, Dr. Ahmad Suady menekankan pentingnya memanfaatkan kesempatan untuk melakukan penelitian terkait topik Cheng Ho dan sejarah Islam Maritim, terutama karena Cina kini kembali membuka diri terhadap berbagai kebudayaan, termasuk dalam diplomasi internasional. Ia mengajak mahasiswa untuk menggali lebih jauh topik ini mengingat besarnya potensi riset sejarah dan budaya terkait Cheng Ho dan Islam Maritim.
Penulis: Anwariah Salsabila