Mahasiswa Unusia Rama Aditya Raih Best Speaker & Best Presentation pada Forum Internasional Singapura–Malaysia
Humas Unusia
Content Writer
Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Ramaditya Putra, meraih dua penghargaan bergengsi—Best Speaker dan Best Presentation—dalam Student Exchange & Leadership Forum Chapter Singapore–Malaysia 2025 yang berlangsung pada 20–25 November 2025. Program yang diselenggarakan oleh International Future Leader (IFL) ini mengusung tema “Empowering Youth for Global Competence and Cross-Cultural Leadership.”
Selama kegiatan, peserta menjalani rangkaian agenda di dua negara. Di Singapura, Rama mengikuti kunjungan lembaga internasional, universitas, dan pusat inovasi. Sementara di Malaysia, ia terlibat dalam sesi pertukaran budaya, diskusi kepemimpinan pemuda ASEAN, serta konferensi internasional. “Kegiatan di dua negara ini membuka mata saya tentang pentingnya kolaborasi lintas budaya dan cara setiap negara membangun ekosistem kepemimpinannya,” ujarnya.
Rama terpilih setelah melalui seleksi administrasi dan esai motivasi, wawancara daring, hingga penilaian rekam jejak prestasinya sebagai Indonesian History Care Ambassador 2024. Ia membawakan topik “Youth Cultural Diplomacy: Peran Pemuda Indonesia dalam Memperkenalkan Sejarah dan Nilai-Nilai Kebangsaan di Kancah Global.”
“Saya memilih topik ini karena saya ingin menunjukkan bahwa sejarah Indonesia bukan hanya untuk dihafal, tetapi bisa menjadi kekuatan diplomasi budaya,” kata Rama. Ia juga menekankan bahwa generasi muda harus berani mengambil ruang global. “Generasi Z punya kesempatan besar melalui teknologi digital untuk memperkenalkan budaya dan identitas Indonesia ke dunia.”
Untuk mempersiapkan diri, Rama melakukan riset mendalam, berlatih public speaking, menyusun materi visual, serta melakukan simulasi sesi diskusi internasional. Meski menghadapi tantangan adaptasi budaya dan komunikasi spontan dalam bahasa Inggris, ia tetap percaya diri. “Tantangan terbesar adalah berbicara spontan di depan peserta dari negara lain, tetapi saya belajar bahwa keberanian sering kali lebih penting daripada kesempurnaan,” ungkapnya.
Penghargaan Best Speaker dan Best Presentation ia raih berkat penyampaian materi yang terstruktur, interaktif, dan relevan. “Saya ingin membawa perspektif baru tentang bagaimana pemuda Indonesia bisa berperan sebagai duta budaya bangsa,” tambahnya.
Prestasi Rama turut mendapat apresiasi dari Dekan Fakultas Islam Nusantara (FIN), Ahmad Suadi.
“Selamat untuk Rama. Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Unusia mampu tampil percaya diri di forum internasional. Fakultas akan terus mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kegiatan global dan mengembangkan kapasitas diri mereka. Semoga semangat Rama bisa menginspirasi mahasiswa lainnya,” ujarnya.
Bagi Rama, prestasi ini memiliki makna mendalam. “Ini bukti bahwa mimpi besar bisa diraih meski berangkat dari latar sederhana,” katanya. Sebagai mahasiswa Unusia, ia merasa bangga dapat menunjukkan bahwa pemuda NU mampu tampil di panggung internasional.
Ia pun memberikan pesan kepada mahasiswa lain, “Kesempatan internasional bukan hanya untuk mereka yang paling pintar, tetapi untuk mereka yang berani mencoba. Mulailah dari langkah kecil, aktif berorganisasi, tingkatkan bahasa Inggris, dan percaya bahwa suara kalian berharga untuk dunia.”
Penulis: Anwariah Salsabila