Mahasiswa SPI Unusia Raih Prestasi Internasional di Ajang Essai SINEC 2025

Mahasiswa SPI Unusia Raih Prestasi Internasional di Ajang Essai SINEC 2025

News 5 min read

Mahasiswa SPI Unusia Raih Prestasi Internasional di Ajang Essai SINEC 2025

Author avatar

Admin UNUSIA

Content Writer

Mahasiswa SPI Unusia Raih Prestasi Internasional di Ajang Essai SINEC 2025

Yogyakarta – Dua mahasiswa Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Rama Aditya Putra dan Satriani, berhasil mengharumkan nama kampus dengan meraih Bronze Medal pada kategori Creative Idea dalam ajang Sustainable Innovations Essay Competition (SINEC) 2025 yang digelar di Universitas Widya Mataram, Yogyakarta, pada 9–10 Agustus 2025.

Kompetisi internasional ini diikuti lebih dari 250 peserta dari berbagai kampus di dalam dan luar negeri. SINEC menjadi wadah bagi mahasiswa untuk merancang ide kreatif, inovatif, dan berkelanjutan sebagai solusi atas permasalahan global, selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).

Rama dan Satriani mengusung judul esai "Merevolusi Pendidikan untuk Dampak Global: Gen Z sebagai Garda Terdepan Transformasi Pembelajaran Digital". Gagasan ini memaparkan peran generasi muda, khususnya Gen Z, dalam memimpin transformasi pendidikan berbasis teknologi digital menuju pembelajaran yang inklusif, adaptif, dan berdampak global.

"Kami percaya, dengan teknologi dan kolaborasi lintas negara, pendidikan bisa dioptimalkan untuk menjangkau lebih banyak pelajar di seluruh dunia," ujar Rama Aditya Putra. Satriani menambahkan, "Kami ingin mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga pencipta solusi. Ide ini lahir dari keinginan melihat pendidikan lebih merata, tanpa hambatan jarak dan biaya."

Keunikan ide mereka terletak pada konsep kolaboratif global yang menggabungkan jejaring Gen Z, teknologi digital, dan gamification learning sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan mudah diakses. Proses seleksi SINEC meliputi administrasi, penilaian orisinalitas ide, kesesuaian dengan SDGs, kelayakan implementasi, hingga presentasi di hadapan juri internasional.

Selama persiapan, mereka mendapat bimbingan dari Ibu Vika Nurul Mufidah, M.Si. Tantangan terbesar adalah membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan penyusunan ide menjadi presentasi singkat namun padat untuk audiens global.

Atas pencapaian ini, Rama mengaku bangga dan bersyukur bisa membawa nama Unusia ke kancah internasional, apalagi sebagai mahasiswa yang baru naik semester tiga. "Rasanya luar biasa, apalagi ini pengalaman pertama ikut lomba internasional dan langsung meraih medali," ucapnya. Satriani pun tak kalah antusias, "Saya sempat ragu di awal, tapi ternyata kerja keras dan keberanian mencoba bisa membawa kita sejauh ini. Kemenangan ini bukan akhir, tapi awal dari kontribusi yang lebih besar."

Sebagai pesan untuk mahasiswa lain, Rama berpesan, "Mulailah dari ide sederhana yang dekat dengan kehidupan, lalu kembangkan dengan riset dan inovasi. Jangan takut mengambil langkah pertama." Satriani menutup, "Jangan pernah meremehkan potensi diri. Coba, belajar, dan percaya bahwa kesempatan selalu ada untuk mereka yang berusaha."

Bagi keduanya, pencapaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa baru pun bisa berprestasi di kancah global jika berani mencoba. Mereka berharap prestasi ini dapat memotivasi mahasiswa Unusia lainnya untuk membawa nama kampus ke tingkat dunia.


Penulis: Anwariah Salsabila