Mahasiswa Ilmu Hukum Unusia Raih Best Presentation 1 dalam LKTIN Nasional di Universitas Jambi
Humas Unusia
Content Writer
Jakarta — Tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) berhasil menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) yang diselenggarakan Universitas Jambi. Tim ini terdiri atas Shalsabila Fatma Azhari dan Firman Wijaya, mahasiswa semester 3 penerima Beasiswa Pertamina Sobat Bumi 2024, serta Abiyazid Al Bustomi, mahasiswa semester 5 penerima KIP 2023. Ketiganya berhasil meraih Best Presentation 1, mengungguli berbagai tim dari perguruan tinggi lain di Indonesia.
Kesempatan untuk mengikuti lomba ini pertama kali mereka temukan melalui unggahan Instagram yang kemudian direkomendasikan oleh kakak tingkat. Tanpa ragu, ketiganya sepakat membentuk tim dan mencoba mengikuti kompetisi bergengsi tersebut.
“Awalnya kami dapat informasi mengenai lomba karya tulis ilmiah nasional di Unja lewat Instagram, dan dishare oleh kakak tingkat untuk direkomendasikan,” ujar Shalsabila.
Dalam kompetisi tersebut, tim ini mengangkat karya berjudul “Analisis Keterjangkauan Pangan di Indonesia: Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Implikasi Kebijakan.”
Pilihan tema pangan mereka anggap relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Meski dikenal sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah, tidak seluruh masyarakat dapat menjangkau pangan yang layak.
“Faktanya, pangan yang berlimpah belum tentu bisa dijangkau semua masyarakat. Ada banyak faktor seperti fluktuasi harga, distribusi tidak merata, subsidi yang salah sasaran, hingga dampak global seperti Covid-19 dan perang Rusia–Ukraina,” jelas mereka. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kasus malnutrisi dan stunting, sehingga menurut mereka pemerintah harus aktif menjamin hak masyarakat atas keterjangkauan pangan.
Selama proses penyusunan karya, tim menghadapi tantangan teknis terutama terkait anggaran dan fasilitas penunjang. “Media untuk menulis seperti laptop kurang sehat, itu jadi kendala penting,” ujar mereka.
Pembagian tugas dilakukan berdasarkan sub-bab: Shalsabila mengerjakan Bab I, Abiyazid Bab II, Firman Bab III, sementara Bab IV dan seterusnya dikerjakan bersama. Komunikasi intensif menjadi kunci agar seluruh anggota memahami isi tulisan secara utuh.
Bagi mereka, kekuatan terbesar tim adalah komunikasi yang solid. “Komunikasi itu poin paling penting. Tanpa itu, kami tidak akan bisa sejauh ini,” ungkap mereka. Komunikasi yang baik membangun chemistry kuat, membuat mereka saling mengandalkan dan mem-back up satu sama lain saat sesi tanya jawab di depan juri.
Bahkan, mereka mengakui tidak menyangka akan meraih predikat Best Presentation 1. “Kami merasa tim lain jauh lebih bagus. Jadi saat diumumkan, kami benar-benar terkejut sekaligus sangat senang.”
Shalsabila dan Firman juga menekankan bahwa beasiswa Pertamina Sobat Bumi memberi dorongan moral bagi mereka untuk terus berprestasi.
“Secara tidak langsung, ini jalan yang diberikan oleh Sobi. Kami punya tanggung jawab untuk meraih prestasi sebanyak mungkin agar kepercayaan yang diberikan kepada kami tidak sia-sia.”
Begitu pula Abiyazid yang merupakan penerima Beasiswa KIP 2023, yang merasa beasiswa tersebut memberi kesempatan lebih luas untuk berkembang.
Menutup wawancara, mereka memberikan pesan inspiratif untuk mahasiswa lain agar berani mencoba:
“Percaya diri lah. Semua orang bisa berkompetisi tingkat nasional maupun internasional. Kalau gagal, tidak apa-apa, itu bagian dari proses. Evaluasi diri dan jangan pernah meremehkan kemampuan sendiri. Ingat, gagal adalah perjalanan menuju sukses.”
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa Unusia lainnya untuk terus berkarya, berani bersaing, dan mengharumkan nama kampus di tingkat nasional.
Penulis: Anwariah Salsabila