Diskusi Sino–Nusantara Hadirkan Akademisi Nasional–Internasional, Unusia Perkuat Kajian Lintas Budaya
Humas Unusia
Content Writer
Sebagai bagian dari rangkaian peluncuran CSNS, Unusia menyelenggarakan Diskusi Hubungan Sino–Nusantara dalam Sejarah, menghadirkan akademisi nasional dan internasional yang membahas jejak hubungan Tiongkok–Indonesia dari sudut pandang sejarah, budaya, serta perkembangan kontemporer.
Diskusi menghadirkan tiga pembicara utama dari lintas lembaga dan negara:
1. Prof. Dr. Sumanto Al Qurtuby
Profesor dari UKSW Salatiga ini memaparkan temuan-temuannya terkait Tionghoa Islam dan bukti-bukti kontribusi besar komunitas Tionghoa dalam sejarah panjang Nusantara. Ia menegaskan bahwa komunitas Tionghoa memiliki peran signifikan dalam perdagangan, jaringan budaya, dan pembentukan peradaban Indonesia sejak masa lampau.
2. Dr. Saeful Hakam (BRIN)
Jika Prof. Sumanto berbicara tentang akar historis dan etnisitas, Dr. Saeful menjelaskan sisi kontemporer Tiongkok sebagai negara besar yang berperan penting dalam dinamika global. Ia menyoroti bagaimana perkembangan politik dan ekonomi Tiongkok hari ini memengaruhi arah hubungan internasional, termasuk Indonesia.
3. Prof. Kathy Foley (University of California)
Hadir melalui sambungan Zoom, Prof. Kathy—seorang pakar seni budaya wayang golek—menyampaikan ketertarikannya pada sejarah peradaban Islam di Nusantara. Ia menjelaskan bagaimana rasa penasarannya terhadap hubungan budaya dan perjalanan Islam membawanya mendalami seni pertunjukan Indonesia, terutama wayang golek.
Menurutnya, wayang golek bukan hanya karya seni, tetapi juga medium yang merekam interaksi kebudayaan antara Islam, lokalitas Sunda–Jawa, serta pengaruh asing termasuk Tiongkok. Prof. Kathy menilai bahwa kajian Sino–Nusantara dapat membuka perspektif baru mengenai bagaimana budaya visual, narasi, dan pertunjukan menjadi jembatan peradaban di Asia Tenggara.
Diskusi yang dipandu oleh Moh. Hasan Basri, M.A., Ph.D. berlangsung penuh ketertarikan. Suasana semakin hidup ketika dibuka sesi tanya jawab dan diskusi interaktif, dimana peserta—baik mahasiswa, dosen, maupun peneliti—mengajukan pertanyaan seputar sejarah, budaya. Antusiasme peserta menciptakan ruang dialog yang kaya dan memperluas pemahaman tentang hubungan Sino–Nusantara.
Setelah sesi diskusi, para peserta diajak melakukan Tour Ruangan Kursus Bahasa Mandarin di Lantai 2 Unusia. Ruangan ini dipersiapkan sebagai pusat pembelajaran budaya dan bahasa Mandarin yang akan menjadi bagian integral dari program CSNS. Ke depannya, Unusia berencana mendatangkan pengajar langsung dari Tiongkok serta membuka peluang pertukaran mahasiswa untuk memperdalam pemahaman lintas budaya.
Dengan terselenggaranya diskusi yang kaya perspektif. Unusia kian menunjukkan komitmennya dalam membangun pusat kajian sejarah, budaya, dan hubungan Sino–Nusantara yang unggul di Indonesia.
Penulis: Anwariah Salsabila