Kisah Inspiratif Adi Yusuf, Alumni TI Unusia Raih Beasiswa LPDP ke Leiden University

Kisah Inspiratif Adi Yusuf, Alumni TI Unusia Raih Beasiswa LPDP ke Leiden University

News 5 min read

Kisah Inspiratif Adi Yusuf, Alumni TI Unusia Raih Beasiswa LPDP ke Leiden University

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Kisah Inspiratif Adi Yusuf, Alumni TI Unusia Raih Beasiswa LPDP ke Leiden University

Jakarta – Perjalanan panjang penuh perjuangan ditempuh Adi Yusuf Arrasyid, putra asli Kabupaten Keerom, Papua, hingga akhirnya berhasil meraih Beasiswa Afirmasi Daerah Tertinggal (3T) LPDP untuk melanjutkan studi magister di Leiden University, Belanda. Alumni Program Studi Teknik Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) ini akan mendalami Computer Science (MSc) dengan fokus pada Artificial Intelligence (AI).

Adi lahir dan besar di Keerom, Papua. Tahun 2018 ia merantau ke Pulau Jawa untuk menempuh pendidikan tinggi di UNUSIA, dan resmi menyelesaikan studinya pada 2023. Ketertarikannya pada teknologi sejak SMA serta keyakinan bahwa Unusia mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai keislaman menjadi alasan utama memilih kampus tersebut.

Selama kuliah, Adi aktif di berbagai organisasi kampus, seperti Himatika, Rayon PMII Unusia, KPUM, dan UKM Matan. Di luar kampus, ia bergabung dengan Dunia Santri Community, Google Developer Group (GDG) Bogor, serta mengikuti program Kampus Merdeka Bangkit yang digagas Google, GOTO, Tokopedia, dan Traveloka. Ia juga pernah magang sebagai Web Developer di NU Online dan menjadi finalis 10 besar Lomba Kompetisi Santri 4.0 (AWS x RMI-PBNU) dengan ide aplikasi Mondokin. Atas prestasi dan kiprahnya, Adi dianugerahi Mahasiswa Berprestasi Wisuda Angkatan IX UNUSIA tahun 2023.

Selepas lulus, Adi memperdalam bahasa Inggris di Pare, Kediri, hingga akhirnya mengenal program beasiswa LPDP. Sebagai anak Papua, ia merasa jalur afirmasi daerah 3T memberi peluang adil bagi generasi muda di wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan. Proses seleksi LPDP ia jalani dengan matang. Ia mempersiapkan CV, portofolio, esai rencana pengabdian, hingga pemetaan kampus tujuan. Seleksi terdiri dari administrasi, Tes Bakat Skolastik (TBS), dan wawancara. Menurutnya, bagian terpenting adalah esai rencana pengabdian yang benar-benar diuji saat wawancara.

“Tantangan terbesar saya adalah bahasa Inggris. Namun, saya berkomitmen belajar selama hampir tiga tahun sambil bekerja, mondok di Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, dan terus melatih diri. Kuncinya konsistensi antara mimpi pribadi dan kontribusi nyata bagi bangsa,” ujarnya.

Leiden University dipilih karena reputasi risetnya yang kuat, terutama dalam bidang AI dan kebijakan teknologi di Eropa. Adi akan memfokuskan riset pada pemanfaatan AI di bidang pendidikan, khususnya pesantren, serta pengembangan AI Policy.

Setelah lulus, ia memiliki sejumlah rencana besar: membangun pilot project AI untuk pendidikan di Papua, berperan dalam perumusan regulasi AI nasional melalui Pusat Riset AI di Jayapura x KOMDIGI, mengembangkan talenta digital, berkarier sebagai peneliti dan dosen, serta mendirikan perusahaan Techno-SocioPreneur yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberi dampak sosial.

Adi menegaskan, pengalaman kuliah di Unusia membentuk dirinya bukan hanya kuat secara akademik, tetapi juga beradab. Dukungan dosen, teman lintas jurusan—khususnya dari Ilmu Hukum—dan keluarga besar Asrama PPMNU Bogor, banyak berperan membangun semangat serta cara pandang hidupnya.

Ia mengutip prinsip yang selalu dipegang: “The Future Belongs To Those Who Can Imagine It, Design It, and Execute It.”

Kepada mahasiswa dan alumni Unusia yang bercita-cita meraih beasiswa, Adi berpesan, “Mulailah lebih awal. Rencanakan kampus tujuan dengan matang, pelajari persyaratan beasiswa, tingkatkan bahasa Inggris, dan bergabunglah dengan komunitas yang relevan. Waktu terbaik menanam pohon adalah sepuluh tahun lalu, waktu terbaik kedua adalah hari ini.”

Bagi Adi, momen paling berkesan adalah ketika ia menerima pengumuman kelulusan LPDP sekaligus Letter of Acceptance (LoA) dari Leiden University. “Rasanya seperti titik akhir dari perjuangan panjang, sekaligus awal babak baru yang lebih besar,” ungkapnya haru.

Keluarga dan orang terdekatnya menyambut dengan bangga. Bagi mereka, keberhasilan ini bukan hanya capaian pribadi, melainkan juga harapan baru bagi anak-anak Papua untuk berani bermimpi setinggi mungkin.

Menutup kisahnya, Adi berharap Unusia semakin memperkuat kemitraan dengan industri dan pusat riset, serta membuka lebih banyak program beasiswa dan riset terapan. Untuk generasi muda dari daerah 3T, ia berpesan: “Jangan minder, setiap kita punya kesempatan. Sukses itu bukan cuma pintar, tapi strategis.”


Penulis: Anwariah Salsabila