Dari Jurnal hingga KKN Internasional: Kiprah LPPM Unusia dalam Riset dan Pengabdian
Humas Unusia
Content Writer
Jakarta – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menorehkan berbagai capaian penting di bidang penelitian dan pengabdian. Di bawah kepemimpinan Muhammad Nurul Huda, LPPM bukan hanya mengelola administrasi, tetapi menjadi motor penggerak budaya meneliti dan mengabdi di kampus.
“Riset dan pengabdian adalah napas kampus. Dari situlah dosen dan mahasiswa bisa memberi bukti bahwa ilmu yang dipelajari benar-benar bermanfaat,” ujar Huda.
Ada tiga jalur utama yang menjadi fokus LPPM:
1. Penguatan kelembagaan internal. LPPM mengelola beberapa jurnal ilmiah di bawah Unusia, sebagian sudah terakreditasi Sinta. Selain itu, Unusia Press aktif menerbitkan karya dosen, mulai dari buku hasil penelitian hingga monograf. Beberapa di antaranya sudah masuk katalog ISBN dan tengah dijajaki kerja sama distribusi.
2. Riset dan pengabdian masyarakat. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Membangun Desa menjadi andalan, dengan target luaran berupa publikasi artikel ilmiah, buku, hingga kerja sama kelembagaan. Tahun lalu, Unusia juga mulai merintis KKN internasional di Malaysia, membuka peluang bagi mahasiswa merasakan pengalaman lintas negara.
3. Penguatan kapasitas SDM. Untuk membekali dosen, LPPM membuka Klinik Proposal Riset, tempat bimbingan menyusun proposal yang sesuai arah riset kampus dan peluang hibah eksternal.
Perkembangan ini tercermin dalam data SINTA (Science and Technology Index). Hingga 2024, Unusia mencatat skor kumulatif 24.736 dengan kontribusi dari 137 penulis aktif. Angka ini meningkat tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah dosen juga mulai menghasilkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan paten, yang memperkuat posisi Unusia dalam peta riset nasional.
“Peningkatan skor SINTA itu bukan sekadar angka. Itu artinya dosen-dosen kita sudah mulai terbiasa menulis, meneliti, dan berbagi karya di jurnal bereputasi. Budaya riset sedang tumbuh, dan itu modal besar bagi kampus,” jelas Huda.
Untuk memperkuat kualitas, LPPM menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari USAID, BRIN, Kemendikbudristek, Kementerian Agama, hingga Bawaslu dan KPU. Kolaborasi ini bukan hanya soal pendanaan, tetapi juga membuka ruang sinergi antara akademisi dengan dunia kebijakan dan masyarakat luas.
“Dengan jejaring itu, dosen dan mahasiswa Unusia punya kesempatan masuk dalam proyek riset nasional, bahkan internasional. Kami ingin LPPM jadi pintu masuk kolaborasi, bukan menara gading yang terisolasi,” tambahnya.
Di sisi pengabdian, LPPM mengarahkan KKN tematik untuk isu-isu strategis: desa digital, moderasi beragama, ketahanan pangan, hingga kesiapsiagaan bencana. Mahasiswa bukan hanya menjalani program seremonial, tetapi menghasilkan produk nyata seperti aplikasi sederhana, modul edukasi, hingga buku dokumentasi kegiatan.
“KKN kami rancang sebagai ruang belajar yang otentik. Mahasiswa tidak hanya mendampingi masyarakat, tapi juga menulis, mendokumentasikan, dan mempublikasikan pengalaman mereka,” kata Huda.
LPPM menargetkan diri menjadi lembaga yang profesional, inovatif, dan maslahat, dengan memperluas publikasi riset, mendorong lahirnya karya kolaboratif, serta memperbanyak pengabdian berbasis komunitas. Seluruh upaya ini diharapkan mampu menghadirkan kampus yang benar-benar hidup bersama masyarakat.
“Intinya sederhana: ilmu harus kembali ke masyarakat. LPPM ingin memastikan bahwa setiap penelitian dan pengabdian yang lahir dari Unusia punya dampak nyata, baik untuk Nahdliyin maupun masyarakat luas,” tutup Huda.
Penulis: Anwariah Salsabila