Bahasa, Agama, dan Kuasa Makna: Kajian Kritis Unusia atas Etimologi Sosio-Religius KBBI

Bahasa, Agama, dan Kuasa Makna: Kajian Kritis Unusia atas Etimologi Sosio-Religius KBBI

News 5 min read

Bahasa, Agama, dan Kuasa Makna: Kajian Kritis Unusia atas Etimologi Sosio-Religius KBBI

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Bahasa, Agama, dan Kuasa Makna: Kajian Kritis Unusia atas Etimologi Sosio-Religius KBBI

Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa kamus tidak sepenuhnya bersifat netral dan objektif sebagaimana selama ini dipahami. Melalui kajian kritis, penelitian berjudul “Framing Faith and Language: A Critical Discourse Analysis of Socio-Religious Etymologies in Indonesian Lexicography” menunjukkan bahwa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), khususnya versi daring, juga menjadi ruang ideologis tempat bahasa, agama, sejarah, dan kekuasaan saling berkelindan dalam pembentukan makna.

Penelitian ini ditulis oleh Fariz Alnizar dan Vika Nurul Mufidah dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, bersama Zulkarnain Yani dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil kajian mereka dipublikasikan dalam LLT Journal: A Journal on Language and Language Teaching Vol. 28, No. 1, April 2025, halaman 128–152.

Para peneliti menyoroti kebijakan KBBI yang sejak 2018 mulai menambahkan keterangan etimologi, termasuk pada kata-kata serapan dari bahasa Arab. Langkah ini dinilai progresif, namun dalam praktiknya masih bersifat parsial, tidak konsisten, dan berpotensi memunculkan bias, terutama pada istilah-istilah sosial-keagamaan yang sensitif secara kultural.

Beberapa contoh yang diangkat dalam penelitian ini antara lain kata modin (muazin) dan muslihat yang ditampilkan dengan penjelasan etimologis dangkal atau bahkan terdistorsi. Selain itu, istilah-istilah sektarian seperti Aswaja, Khawarij, dan Wahabi dinilai memuat bias epistemologis serta mencerminkan kerangka ideologis tertentu yang bekerja dalam proses penyusunan kamus.

Penelitian ini juga menemukan adanya ketimpangan representasi leksikal. Sejumlah istilah penting dalam praktik keislaman, seperti istirja’, tayamum, dan berkah, tidak disertai keterangan etimologi. Sebaliknya, istilah sektarian tertentu justru dicantumkan secara eksplisit. Kondisi ini menunjukkan adanya selektivitas dalam pendokumentasian bahasa yang berimplikasi pada pemaknaan dan otoritas keagamaan.

Melalui temuan tersebut, para peneliti menegaskan bahwa KBBI tidak dapat dipandang semata-mata sebagai arsip bahasa yang netral. Kamus juga berfungsi sebagai arena produksi makna, identitas, dan legitimasi pengetahuan, termasuk dalam ranah keagamaan.

Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan agar praktik leksikografi di Indonesia dilakukan secara lebih transparan, inklusif, dan reflektif terhadap keragaman sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, kamus tidak hanya menjadi alat linguistik, tetapi juga ruang representasi yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.


Penulis: Anwariah Salsabila