Angkat Isu Identitas Islam Menak Santri, Ramlan Gondol Doktor Islam Nusantara

Angkat Isu Identitas Islam Menak Santri, Ramlan Gondol Doktor Islam Nusantara

News 5 min read

Angkat Isu Identitas Islam Menak Santri, Ramlan Gondol Doktor Islam Nusantara

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Angkat Isu Identitas Islam Menak Santri, Ramlan Gondol Doktor Islam Nusantara

Jakarta, 4 Juni 2025 — Fakultas Islam Nusantara Unusia kembali menambah deretan doktor bidang Sejarah Peradaban Islam. Ramlan Maulana resmi dikukuhkan sebagai doktor usai mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor bertempat di Aula Jakoeb Oetama, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), pada Rabu (4/6) pukul 13.00–15.00 WIB.

Disertasi berjudul “Relasi Kuasa Kolonial dan Identitas Islam (Studi Kebudayaan Kaum Ménak Santri di Purwakarta Abad ke-19 sampai dengan Awal Abad ke-20 M)” ini menelaah dinamika identitas Islam di bawah hegemoni kolonial Belanda, dengan fokus pada kaum ménak santri di wilayah Purwakarta.

Dengan menggunakan pendekatan sejarah dan teori relasi kuasa Michel Foucault, Ramlan mengurai bagaimana sistem kolonial menancapkan kekuasaan bukan hanya secara fisik, tetapi melalui wacana pengetahuan, regulasi sosial, dan gaya hidup ala Eropa. Proyek modernisasi kolonial diinternalisasi melalui birokrasi, pendidikan, dan budaya Barat yang dibingkai sebagai misi pemberadaban.

Namun, disertasi ini menemukan bahwa kaum ménak santri merespons dengan cerdik. Identitas Islam mereka tidak luntur, melainkan membentuk karakter hibrid—mengadopsi unsur Barat secara strategis tanpa kehilangan akar sufistik Islam Nusantara. Proses mimicry ini justru melahirkan resistensi kultural yang halus namun signifikan terhadap sekularisme dan westernisasi.

Sidang promosi ini dipimpin oleh Dr. Siti Nabilah, M.Pd sebagai Ketua Sidang, dengan Prof. Dr. Ajid Thohir, M.A sebagai Promotor dan Dr. Ayatullah, M.Ud sebagai Co-Promotor. Dewan penguji juga terdiri dari Dr. Ahmad Su’adi, M.A.Hum, Dr. Fariz Alnizar, M.Hum, serta Moh. Hasan Basri, M.A., Ph.D. sebagai Sekretaris Sidang.

Usai dikukuhkan sebagai doktor, Ramlan menyampaikan ungkapan reflektif atas proses panjang yang telah dilaluinya:

"Perjalanan enam tahun dalam disertasi ini cukup tertatih-tatih. Bukan soal lamanya, tapi yang paling krusial adalah bagaimana kita mengalahkan diri sendiri dalam proses ini. Kata Pak Su’adi, 'sibuk itu bukan alasan, sampai kapanpun orang akan sibuk.' Penulisan disertasi ini sebenarnya soal kita-nya, karena secara teknis bisa jadi cukup enam bulan. Tapi pertanyaannya: apakah kita sanggup melawan ego dan menaklukkan diri sendiri?"

Dengan keberhasilan ini, Ramlan Maulana tak hanya menambah daftar ilmuwan Muslim Nusantara, tapi juga memberi kontribusi penting dalam memahami dinamika kekuasaan kolonial, pergeseran identitas Islam, serta perlawanan kultural dalam sejarah Indonesia.


Penulis: Anwariah Salsabila